Tuesday, 9 March 2010

Entrepreneur: Meraih Kemenangan di Tengah Cibiran Alam Semesta

Entrepreneur: Meraih Kemenangan di Tengah Cibiran Alam Semesta

Oleh: JOI Ihalauw
Staf Pengajar UPH Business School


Judul ini adalah secuil pesan Claude Hopkins kepada anaknya, yang menggambarkan perjalanannya menjadi seorang sukses. Seorang entrepreneur berani bertindak berbeda, kokoh dalam keyakinan saat melihat peluang, bahkan jika harus melawan arus sekalipun.

Media membeberkan fakta jumlah entrepreneur di Indonesia hanya 400.000 dari jumlah kebutuhan 4,4 juta orang. Kita tersentak. Kalau saja bisa mencapai 2% dari jumlah penduduk, Indonesia pasti lebih maju. Amerika Serikat memiliki entrepreneur 11% dari jumlah penduduknya.

Kao (John J. Kao) menunjukan empat komponen saat menelisik fenomena kewirausahaan: insan kreatif yaitu entrepreneur, tugas kreatif, konteks organisasi, dan tantangan lingkungan sekitar. Tulisan ini hanya sekelumit tentang insan kreatif, yaitu bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir strategis seorang entrepreneur pemula.

Harus diakui, tindakan terencana dan serius untuk membentuk entrepreneur pemula Indonesia baru tampak dalam satu dekade terakhir. Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan program studi kewirausahaan. Bank-bank ikut berkiprah melalui progran CSR. Semisal Bank Mandiri, yang telah mendidik 9.900 mahasiswa untuk menjadi entrepreneur, tapi 3.000 saja yang lolos tempaan.

Kao mengatakan, konsep entrepreneurship berarti tindakan cipta-nilai melaui pengenalan peluang-peluang bisnis, pengelolaan kesediaan memikul resiko sepadan dengan peluang itu, serta mahir komunikasi dan manajemen pengerahan sumber daya manusia, finansial, dan material yang diperlukan, sehingga proyek yang dikerjakan membuahkan hasil.

Kao memberi penekakanan pada kemampuan mencipta nilai. Jika nilai untuk pelanggan dipahami sebagai perbandingan atara manfaat dengan biaya, maka sejak dini, entrepreneur harus tahu bahwa manfaat selalu berubah, sebab keinginan (manfaat yang dicari) pembeli di pasar pun dinamis. Jadi, entrepreneur harus cerdik menyikapi kecenderungan keinginan dan mampu mencipta manfaat baru untuk ditawarkan ke pasar.

Berkiprah sebagai entrepreneur mengharuskan ia untuk selalu berpijak pada realitas, menginderai kesenjangan antara manfaat dicari (keinginan) dan manfaat aktual (dalam produk) yang ditawarkan ke pasar. Boleh jadi kesenjangan antara manfaat yang dicari dengan manfaat aktual itu pada awalnya secercah peluang saja. Waktu jualah yang menjawab apakah kelak secercah peluang itu sesungguhnya sesuatu yang besar dan menguntungkan.

Mejalani waktu inilah yang sering membimbangkan entrepreneur pemula. Keraguannya diperbesar oleh rasa takut rugi, tidak punya cukup modal untuk bisa bertahan lebih lama, usia beranjak naik sedangkan hasil belum kelihatan, tidak berpengalaman, dan persaingan ketat. Ada juga mitos bahwa kelompok etnis tertentu saja yang bisa menjadi entrepreneur.

Sejatinya untuk menjadi entrepreneur, seseorang harus bertindah, bertindak, dan terus bertindak untuk menciptakan nilai! Hal ini dikukuhkan oleh hasil penelitian Shefsky pada 1994 terhadap 200 entrepreneur, sehingga ia menyimpulkan: entrepreneur are made, not born!

Kemampuan berpikir strategis adalah salah satu modal entrepreneur pemula. Ohmae (Kenichi Ohmae) menunjukan 3R penting dari seni pikir strategik: Pertama, Reality; entrepreneur harus membiasakan menjelajah lanskap abad ke-21, mengamati kenyataan dan kecendurangan pasar, industri dan lingkungan makro. Mereka perlu peka terhadap tantangan dari perubahan yang sedang terjadi.

Coba kita simak, Etnis Tionghoa secara budaya terbiasa memandang tantangan atau krisis (wei cie) sebagai ancaman (wei sien) sekaligus peluang (cie hue). Ketika dihadapkan dengan wei cie, secara simultan wei sien dan cie hue. Dunia belum kiamat, ada kesempatan! Ini kemampuan berpikir kreatif memandang setiap ancaman sebagai peluang yang tertunda; memuntir ancaman menjadi peluang baru.

Kedua, Ripeness atau timing, tepat saat dalam mengidentifikasi dan menggarap peluang. Tidah heran jika kita sering mendengar bahwa opportunity never knocks twice, atau "dia hoki banget". Bukan tanpa dasar ketika Ries dan Trout mengatakan bahwa timing adalah Himalaya-nya strategi. Jadi, entrepreneur pemula perlu mengasah diri dalam mengenali dan menggunakan strategic window, yaitu limited periods during which the fit between the requirements oh the firm is at an optimum.

Yang terakhir, Resources. Entrepreneur pemula harus mampu mengerahkan sumberdayanya yang terbatas untuk menciptakan nilai. Sering kita terjebak dalam kebiasaan berpikir bahwa kelimpahan sumberdayalah yang paling penting. Fakta menunjukan, bukan kelimpahan sumberdaya, melainkan racikan unik dari berbagai sumberdaya yang dikuasailah yang terpenting sehingga terbentuk kapabilitas-kapabilitas unik untuk mencipta nilai superior. Bukankah bahan-bahan untuk membuat nasi goreng adalah sama? Tetapi mengapa ada yang laris banget? Kuncinya: Keunikan RACIKAN!


Salam sukses,


Junaedi


Entrepreneur: Meraih Kemenangan di Tengah Cibiran Alam Semesta

Entrepreneur: Meraih Kemenangan di Tengah Cibiran Alam Semesta

Oleh: JOI Ihalauw
Staf Pengajar UPH Business School


Judul ini adalah secuil pesan Claude Hopkins kepada anaknya, yang menggambarkan perjalanannya menjadi seorang sukses. Seorang entrepreneur berani bertindak berbeda, kokoh dalam keyakinan saat melihat peluang, bahkan jika harus melawan arus sekalipun.

Media membeberkan fakta jumlah entrepreneur di Indonesia hanya 400.000 dari jumlah kebutuhan 4,4 juta orang. Kita tersentak. Kalau saja bisa mencapai 2% dari jumlah penduduk, Indonesia pasti lebih maju. Amerika Serikat memiliki entrepreneur 11% dari jumlah penduduknya.

Kao (John J. Kao) menunjukan empat komponen saat menelisik fenomena kewirausahaan: insan kreatif yaitu entrepreneur, tugas kreatif, konteks organisasi, dan tantangan lingkungan sekitar. Tulisan ini hanya sekelumit tentang insan kreatif, yaitu bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir strategis seorang entrepreneur pemula.

Harus diakui, tindakan terencana dan serius untuk membentuk entrepreneur pemula Indonesia baru tampak dalam satu dekade terakhir. Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan program studi kewirausahaan. Bank-bank ikut berkiprah melalui progran CSR. Semisal Bank Mandiri, yang telah mendidik 9.900 mahasiswa untuk menjadi entrepreneur, tapi 3.000 saja yang lolos tempaan.

Kao mengatakan, konsep entrepreneurship berarti tindakan cipta-nilai melaui pengenalan peluang-peluang bisnis, pengelolaan kesediaan memikul resiko sepadan dengan peluang itu, serta mahir komunikasi dan manajemen pengerahan sumber daya manusia, finansial, dan material yang diperlukan, sehingga proyek yang dikerjakan membuahkan hasil.

Kao memberi penekakanan pada kemampuan mencipta nilai. Jika nilai untuk pelanggan dipahami sebagai perbandingan atara manfaat dengan biaya, maka sejak dini, entrepreneur harus tahu bahwa manfaat selalu berubah, sebab keinginan (manfaat yang dicari) pembeli di pasar pun dinamis. Jadi, entrepreneur harus cerdik menyikapi kecenderungan keinginan dan mampu mencipta manfaat baru untuk ditawarkan ke pasar.

Berkiprah sebagai entrepreneur mengharuskan ia untuk selalu berpijak pada realitas, menginderai kesenjangan antara manfaat dicari (keinginan) dan manfaat aktual (dalam produk) yang ditawarkan ke pasar. Boleh jadi kesenjangan antara manfaat yang dicari dengan manfaat aktual itu pada awalnya secercah peluang saja. Waktu jualah yang menjawab apakah kelak secercah peluang itu sesungguhnya sesuatu yang besar dan menguntungkan.

Mejalani waktu inilah yang sering membimbangkan entrepreneur pemula. Keraguannya diperbesar oleh rasa takut rugi, tidak punya cukup modal untuk bisa bertahan lebih lama, usia beranjak naik sedangkan hasil belum kelihatan, tidak berpengalaman, dan persaingan ketat. Ada juga mitos bahwa kelompok etnis tertentu saja yang bisa menjadi entrepreneur.

Sejatinya untuk menjadi entrepreneur, seseorang harus bertindah, bertindak, dan terus bertindak untuk menciptakan nilai! Hal ini dikukuhkan oleh hasil penelitian Shefsky pada 1994 terhadap 200 entrepreneur, sehingga ia menyimpulkan: entrepreneur are made, not born!

Kemampuan berpikir strategis adalah salah satu modal entrepreneur pemula. Ohmae (Kenichi Ohmae) menunjukan 3R penting dari seni pikir strategik: Pertama, Reality; entrepreneur harus membiasakan menjelajah lanskap abad ke-21, mengamati kenyataan dan kecendurangan pasar, industri dan lingkungan makro. Mereka perlu peka terhadap tantangan dari perubahan yang sedang terjadi.

Coba kita simak, Etnis Tionghoa secara budaya terbiasa memandang tantangan atau krisis (wei cie) sebagai ancaman (wei sien) sekaligus peluang (cie hue). Ketika dihadapkan dengan wei cie, secara simultan wei sien dan cie hue. Dunia belum kiamat, ada kesempatan! Ini kemampuan berpikir kreatif memandang setiap ancaman sebagai peluang yang tertunda; memuntir ancaman menjadi peluang baru.

Kedua, Ripeness atau timing, tepat saat dalam mengidentifikasi dan menggarap peluang. Tidah heran jika kita sering mendengar bahwa opportunity never knocks twice, atau "dia hoki banget". Bukan tanpa dasar ketika Ries dan Trout mengatakan bahwa timing adalah Himalaya-nya strategi. Jadi, entrepreneur pemula perlu mengasah diri dalam mengenali dan menggunakan strategic window, yaitu limited periods during which the fit between the requirements oh the firm is at an optimum.

Yang terakhir, Resources. Entrepreneur pemula harus mampu mengerahkan sumberdayanya yang terbatas untuk menciptakan nilai. Sering kita terjebak dalam kebiasaan berpikir bahwa kelimpahan sumberdayalah yang paling penting. Fakta menunjukan, bukan kelimpahan sumberdaya, melainkan racikan unik dari berbagai sumberdaya yang dikuasailah yang terpenting sehingga terbentuk kapabilitas-kapabilitas unik untuk mencipta nilai superior. Bukankah bahan-bahan untuk membuat nasi goreng adalah sama? Tetapi mengapa ada yang laris banget? Kuncinya: Keunikan RACIKAN!


Salam sukses,


Junaedi


Tuesday, 16 February 2010

Gran Opening MAXILink, senin 15 Februari 2010

Senin 15 Feb. 2010, hari itu adalah hari "Grand Opening" Loket Pembayaran Listri & Telepon (MAXILink).

Jam baru menunjukan -+10.00 wib tiba-tiba HP berdering setelah saya lihat ternyata dari istri tercinta, antara percaya dan tidak istri berujar dengan suara terbata-bata seolah tdk bisa menyimpan kegembiraan karena usaha yang masih bayi ini didatangi oleh segerombolan ibu-ibu komplek.

Singkat cerita sang istri dengan nada panik meminta saya untuk tambah saldo PLN&Telepon segera karena saldo yg ada sudah menipis. Tidak mau kehilangan pelanggan dan demi kepuasan atas layanan kami tanpa berpikir panjang lebar saya pun langsung beranjak dr tempat duduk menuju ATM untuk segera tranfer. Alhamdulillah persolan telah terselesaikan dan pelanggan pun merasa puas atas layanan kami.

Dengan sedikit promosi (spanduk & poster) alhamdulillah hari pertama kami buka loket pembayaran Listrik & Telepon langsung diserbu oleh ibu-ibu komplek dan masyarakat sekitar. Ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kami karena usaha yg kami jalankan ini ibarat bayi baru lahir tapi telah ditunggu oleh bapak-bapak dan ibu-ibu. Alhamdulillah ya Allah ternyata perjuangan kami tidak sia-sia dan dibutuhkan oleh orang lain. Semoga kami dapat menjalankan amanah-Mu dan pengguna layanan kami bertambah banyak serta dapat terpuaskan akan layanan kami.

Satu point yang kami dapat adalah "Jika kita berjuang dijalan Allah dan sepenuh hati insaya Allah akan dimudahkan", demikian sharing ini saya sampaikan semoga bermanfaat.


Salam sukses,


Junaedi
081310004288


Gran Opening MAXILink, senin 15 Februari 2010

Senin 15 Feb. 2010, hari itu adalah hari "Grand Opening" Loket Pembayaran Listri & Telepon (MAXILink).

Jam baru menunjukan -+10.00 wib tiba-tiba HP berdering setelah saya lihat ternyata dari istri tercinta, antara percaya dan tidak istri berujar dengan suara terbata-bata seolah tdk bisa menyimpan kegembiraan karena usaha yang masih bayi ini didatangi oleh segerombolan ibu-ibu komplek.

Singkat cerita sang istri dengan nada panik meminta saya untuk tambah saldo PLN&Telepon segera karena saldo yg ada sudah menipis. Tidak mau kehilangan pelanggan dan demi kepuasan atas layanan kami tanpa berpikir panjang lebar saya pun langsung beranjak dr tempat duduk menuju ATM untuk segera tranfer. Alhamdulillah persolan telah terselesaikan dan pelanggan pun merasa puas atas layanan kami.

Dengan sedikit promosi (spanduk & poster) alhamdulillah hari pertama kami buka loket pembayaran Listrik & Telepon langsung diserbu oleh ibu-ibu komplek dan masyarakat sekitar. Ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kami karena usaha yg kami jalankan ini ibarat bayi baru lahir tapi telah ditunggu oleh bapak-bapak dan ibu-ibu. Alhamdulillah ya Allah ternyata perjuangan kami tidak sia-sia dan dibutuhkan oleh orang lain. Semoga kami dapat menjalankan amanah-Mu dan pengguna layanan kami bertambah banyak serta dapat terpuaskan akan layanan kami.

Satu point yang kami dapat adalah "Jika kita berjuang dijalan Allah dan sepenuh hati insaya Allah akan dimudahkan", demikian sharing ini saya sampaikan semoga bermanfaat.


Salam sukses,


Junaedi
081310004288


Wednesday, 10 February 2010

THE POWER OF KEPEPET

Seandainya sekarang anda tidak memiliki uang tabungan, penghasilan pun kurang dari 1 juta sebulan. Apakah anda bisa mendapatkan uang 10 juta - jam 9 esok hari?" Saat saya menanyakan pertanyaan ini kepada peserta seminar, hampir semua menjawab, Tidak Bisa.

Kenapa?? Karena mereka mengukur kemampuannya berdasarkan kondisi normal mereka. Dengan penghasilan 1 juta perbulan, jika savingnya 200 ribu perbulan, maka butuh 50 bulan untuk mendapatkan 5 juta.

Bagaimana jika pertanyaan saya ubah? Seandainya, malam hari ini, orang yang paling Anda sayangi, mendadak sakit keras. Dokter mendiagnosa ada sebuah tumor ganas yang harus dioperasi esok pagi. Jika tidak, maka (maaf) nyawanya akan melayang. Sedangkan operasi hanya bisa dilaksanakan jika anda menyerahkan uang tunai sejumlah 5 juta rupiah sebelum jam 9 esok hari. Bagaimana? Apakah anda masih akan mengatakan tidak bisa? Mayoritas akan menjawab, "Harus bisa". Kenapa? Karena KEPEPET, jika tidak, nyawa orang yang kita cintai tersebut akan melayang.

Jadi sebenarnya jika dalam kondisi yang terdesak dan tidak diberikan pilihan untuk "tidak bisa", manusia akan mencari jalan untuk berfikir "Bagaimana Harus Bisa". Tetapi kenapa sukses, kaya, membahagiakan orang tua atau keluarga, seolah bukan suatu kebutuhan yang mendesak?

Sesungguhnya manusia telah diciptakan dengan potensi luar biasa, diluar apa yang kita pikirkan. Hanya saja potensi tersebut seringkali hanya akan keluar pada kondisi terdesak, seperti seorang nenek bisa melompat dari gedung setinggi 5 meter, saat kebakaran.

Coba amati biografi orang-orang sukses, banyak dari mereka yang 'kepepet' sebelumnya. Seperti per atau pegas, saat kita tekan, maka akan menimbulkan gaya yang lebih besar. Trus, apa yang harus kita lakukan? Cara Pertama untuk mengeluarkan 'potensi kepepet' kita, adalah dengan cara menvisualisasikan (membayangkan) seolah-olah kita dalam kondisi kepepet, maka kita akan mengfungsikan organ tubuh dan hormon-hormon kita, bekerja secara maksimal. Misalnya, bayangkan jika hari ini anda di PHK, apa yang akan anda lakukan?

Cara kedua, menciptakan kondisi kepepet secara Nyata. Misalnya dengan berhutang untuk modal usaha, secara otomatis akan membuat kita termotivasi untuk mengembalikan hutang. Atau, bisa juga kita terima orderan langsung, meskipun usaha belum mulai. Ada juga yang memberanikan diri membayar DP (uang muka) sewa ruko/ kios, setelah itu terpaksa berfikir bagaimana melunasinya. Jika anda masih single dan tidak punya tanggungan keluarga, mungkin anda mau langsung mencoba keluar kerja dan mulai usaha?! Semua itu pilihan anda lho, jangan salahkan saya untuk resikonya. Tergantung dari karakter masing-masing orang. Saya menempuh cara yang terakhir, cukup konyol, tapi berhasil. Kuncinya: Tetap jaga KREDIBILITAS Anda.

Cara mana yang akan anda pilih, yang penting MELANGKAH, jangan kebanyakan mikir atau sekedar membaca artikel saya ini. Karena kehidupan anda tidak akan berubah hanya dengan mendengar, tapi dengan ACTION.
Seperti kata Rudy Hartono, apa yang membuatnya menjadi juara? Jawabnya: “Every Point is a Game Point.”

FIGHT!


Junaedi
081310004288


Jaya Setiabudi dapat dihubngi di email : masj@fone-mail.com

THE POWER OF KEPEPET

Seandainya sekarang anda tidak memiliki uang tabungan, penghasilan pun kurang dari 1 juta sebulan. Apakah anda bisa mendapatkan uang 10 juta - jam 9 esok hari?" Saat saya menanyakan pertanyaan ini kepada peserta seminar, hampir semua menjawab, Tidak Bisa.

Kenapa?? Karena mereka mengukur kemampuannya berdasarkan kondisi normal mereka. Dengan penghasilan 1 juta perbulan, jika savingnya 200 ribu perbulan, maka butuh 50 bulan untuk mendapatkan 5 juta.

Bagaimana jika pertanyaan saya ubah? Seandainya, malam hari ini, orang yang paling Anda sayangi, mendadak sakit keras. Dokter mendiagnosa ada sebuah tumor ganas yang harus dioperasi esok pagi. Jika tidak, maka (maaf) nyawanya akan melayang. Sedangkan operasi hanya bisa dilaksanakan jika anda menyerahkan uang tunai sejumlah 5 juta rupiah sebelum jam 9 esok hari. Bagaimana? Apakah anda masih akan mengatakan tidak bisa? Mayoritas akan menjawab, "Harus bisa". Kenapa? Karena KEPEPET, jika tidak, nyawa orang yang kita cintai tersebut akan melayang.

Jadi sebenarnya jika dalam kondisi yang terdesak dan tidak diberikan pilihan untuk "tidak bisa", manusia akan mencari jalan untuk berfikir "Bagaimana Harus Bisa". Tetapi kenapa sukses, kaya, membahagiakan orang tua atau keluarga, seolah bukan suatu kebutuhan yang mendesak?

Sesungguhnya manusia telah diciptakan dengan potensi luar biasa, diluar apa yang kita pikirkan. Hanya saja potensi tersebut seringkali hanya akan keluar pada kondisi terdesak, seperti seorang nenek bisa melompat dari gedung setinggi 5 meter, saat kebakaran.

Coba amati biografi orang-orang sukses, banyak dari mereka yang 'kepepet' sebelumnya. Seperti per atau pegas, saat kita tekan, maka akan menimbulkan gaya yang lebih besar. Trus, apa yang harus kita lakukan? Cara Pertama untuk mengeluarkan 'potensi kepepet' kita, adalah dengan cara menvisualisasikan (membayangkan) seolah-olah kita dalam kondisi kepepet, maka kita akan mengfungsikan organ tubuh dan hormon-hormon kita, bekerja secara maksimal. Misalnya, bayangkan jika hari ini anda di PHK, apa yang akan anda lakukan?

Cara kedua, menciptakan kondisi kepepet secara Nyata. Misalnya dengan berhutang untuk modal usaha, secara otomatis akan membuat kita termotivasi untuk mengembalikan hutang. Atau, bisa juga kita terima orderan langsung, meskipun usaha belum mulai. Ada juga yang memberanikan diri membayar DP (uang muka) sewa ruko/ kios, setelah itu terpaksa berfikir bagaimana melunasinya. Jika anda masih single dan tidak punya tanggungan keluarga, mungkin anda mau langsung mencoba keluar kerja dan mulai usaha?! Semua itu pilihan anda lho, jangan salahkan saya untuk resikonya. Tergantung dari karakter masing-masing orang. Saya menempuh cara yang terakhir, cukup konyol, tapi berhasil. Kuncinya: Tetap jaga KREDIBILITAS Anda.

Cara mana yang akan anda pilih, yang penting MELANGKAH, jangan kebanyakan mikir atau sekedar membaca artikel saya ini. Karena kehidupan anda tidak akan berubah hanya dengan mendengar, tapi dengan ACTION.
Seperti kata Rudy Hartono, apa yang membuatnya menjadi juara? Jawabnya: “Every Point is a Game Point.”

FIGHT!


Junaedi
081310004288


Jaya Setiabudi dapat dihubngi di email : masj@fone-mail.com

Monday, 18 January 2010

Takut Salah Nggak Usahlah

*Takut Salah? Nggak Usahlah!*

Saya nyaris yakin bahwa Anda pasti bisa mengendarai sepeda. Roda dua maksud saya. Saya mengajak Anda berkelana ke masa lalu. Mari...

Anda pasti masih ingat bagaimana indahnya masa-masa itu. Masa kanak-kanak ketika kita merasa begitu bebas dan merdeka menjelajahi pelosok kampung kita, atau malah ke kampung-kampung tetangga, dengan bersepeda.

Salah satu kenangan terindah kita, berasal dari masa-masa itu. Entah Anda tinggal di perkotaan, di kompleks perumahan, di dekat pasar, atau di desa, bersepeda menyusuri pematang sawah barangkali.

Masih ingatkah Anda, tentang segala hal yang Anda alami sebelum masa-masa indah itu bisa Anda nikmati?

Maksud saya, saat kita baru belajar menaiki sepeda. Saat kita dilanda gelora emosi karena belum juga bisa mengendalikan dan menyeimbangkan posisi bersepeda. Saat itu, kita melakukan begitu banyak kesalahan. Inilah di antara kesalahan yang pernah saya buat kala itu:

1. Jatuh ke selokan.
2. Menabrak pagar rumah orang.
3. Nyelonong keluar dari gang dan menyeruduk mobil lewat.
4. Menabrak sepeda teman.
5. Terpeleset pasir.
6. Rem blong.

Anda tambahkan sendiri pengalaman Anda.

Saat itu, setahu saya, belum banyak helm pengaman dijual. Apalagi pengaman siku dan lutut seperti yang banyak beredar sekarang. Masih bagus, jika waktu itu sepeda Anda punya rem yang berfungsi dengan sangat baik.

Saya sendiri, pernah belajar dengan sepeda yang tidak punya rem. Waktu itu, cara saya menghentikan sepeda adalah dengan menekan sandal jepit saya langsung ke roda depan. Ha...ha...ha.. berhenti juga, walaupun "overshoot" (landing melebihi batas landasan).

Dengan segala kesalahan dan blunder yang saya lakukan itu, banyak yang terjadi pada diri saya:

1. Lecet dan keseleo.
2. Lutut memar.
3. Tulang kering luka dan terkelupas.
4. Sikut carut-marut.
5. Kadang ya benjol juga jidat.
6. Dimarahi orang, ini pasti.

Belum lagi menangis, atau berkelahi berebut sepeda, dan diomeli orang tua atau tetangga.

Lagi, Anda bisa tambahi daftar ini.

Masihkah Anda ingat bagaimana rasanya, pedal sepeda yang memantul dan menutuk ke tulang kering Anda?

Masihkah Anda ingat bagaimana rasanya, terjerembab dengan telapak tangan menggelosor di atas aspal berpasir? Masih ingatkah Anda bagaimana rasanya malam hari setelah kejadian semacam itu? Telapak tangan yang terasa begitu panas dan berdenyut semalaman? Bisa jadi, Anda merasakannya sembari berlinang air mata dan terisak-isak.

Jawab pertanyaan saya, apakah semua kesalahan dan blunder itu, membuat Anda berhenti belajar naik sepeda?

Mengapa?

Ya! Tepat sekali, Anda ingin bisa.

"The power of dream!"

Kekuatan impianlah yang membuat Anda tetap berjuang dan belajar keras. Sampai bisa.

Kini, hari ini, saya yakin bahwa semua kesalahan dan blunder dari masa-masa itu, justru menjadi bagian dari keindahan itu sendiri. Setuju?

Jawab lagi pertanyaan saya. Kok bisa, kekuatan impian Anda begitu besarnya?

Ini rahasianya.

Ketika Anda kecil, Anda masih polos. Anda belum banyak dicekoki dan "diracuni" oleh berbagai pengertian dan pemahaman tentang benar atau salah, dan tentang baik atau buruk.

Saat itu, Anda sangat yakin dalam menyikapi segala kesalahan dan blunder yang terjadi. Di mata Anda, semua kesalahan dan blunder adalah semata-mata "kesalahan teknis".

Sejalan dengan usia dan pendidikan Anda, Anda mulai menyusun dan mengorganisir berbagai konsep dan pemahaman tentang salah, benar, baik, dan buruk. Tentang moralitas dan idealisme kehidupan. Sampai hari ini.

Ternyata, tanpa Anda sadari, Anda mulai merumuskan sebuah konsepsi baru tentang kesalahan, yaitu *"kesalahan moral"*. Dan yang sangat sering terjadi, adalah kekurangwaspadaan Anda dalam memisahkan dua macam kesalahan itu.

Maka mulai sekarang, camkanlah ini.

Jika Anda mau melakukan sesuatu, dan kemudian menemukan berbagai kemungkinan kesalahan dan blunder yang mungkin akan terjadi, jangan langsung berhenti. Uji dahulu semua itu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Apakah jika kesalahan atau blunder itu terjadi, akankah:

1. Membuat Anda berdosa?
2. Membuat Anda masuk neraka?
3. Membuat Anda masuk penjara?
4. Mencederai moralitas dan keyakinan Anda?
5. Melukai orang-orang yang Anda cintai?
6. Merugikan khalayak?

Jika Anda bisa menjawab "tidak", maka segala kesalahan itu semata-mata hanya *"teknis"* sifatnya. Dan *"kesalahan teknis*" semacam ini, selalulah merupakan *pembelajaran*. Penting, dan bernilai untuk Anda. Jangan berhenti.

*Jangan Berhenti!*

Coba pertimbangkan hal-hal ini.

Anda mau membuka warung kelontong di garasi Anda, dan tetangga seberang rumah Anda sudah lebih dahulu membuka warung di garasinya. Anda ingin sekali, tapi Anda membatalkannya, karena *"tidak enak hati"*.

Di Mangga Dua sana, ratusan toko elektronik berjajar rapi menjual barang yang identik dan persis sama. Rezeki ada yang mengatur!

Anda mau mengejar cita-cita, kemudian sekitar Anda memberi masukan negatif. Anda mau berhenti? Apakah Anda mau bilang, *"apa kata orang nanti?"*

Sudahlah. Jika Anda mampu menjawab "tidak" untuk enam pertanyaan di atas, lakukan saja!

*Lakukan Saja!*

Di ballroom hotel Twin Plaza kemarin, ada seorang peserta yang bertanya kepada saya, *"Pak, saya kok sering merasa terdemotivasi, gimana pak?"* Saya bilang, *"Bukan pak, Anda hanya sedang terdiskoneksi.... - dari mimpi."*

*"People often think that they're being demotivated by their situations. No, they're just being disconnected from their dreams."*

Semoga bermanfaat.


Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://www.motivasi-komunikasi-leadership.co.cc
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305